Tarbiyah dan Pembentukkan Kader Dakwah
Oleh : Abdul Muiz, M.A
Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah
seorang yang telah tertarbiyah secara intensif
sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan
berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi
menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di
masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja besar
yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik
dan Islami, maka ia harus memiliki kelebihan dan
keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya.
Namun tidak semua orang harus menjadi kader karena
biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan
masyarakat umum. (QS 33:23). Para kader dakwah
adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga
dan seluruh harta bendaserta potensi yang mereka
milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh
dari Al Qur’an & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi
pembela fikroh dan aqidah bukan membela
kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang
dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2
dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan dakwah
yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang
berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling
mencintai
Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader
dakwah yaitu: “rijalul qaul (orang yang pandai
berbicara) tidak sama dengan rijalul ‘amal (orang
yang pandai bekerja) dan rijalul ‘amal tidak sama
dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam
bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama dengan
Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim
(bijaksana) yaitu orang yang mampu memberikan
hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling
kecil. Menurut beliau “Sesungguhnya orang yang
pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit
diantara mereka yang tetap konsisten ketika
bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja
tetapi sedikit yang mampu mengemban amanah jihad
yang berat dan mau bekerja keras.
Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah
- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam
yang benar akan terpelihara dari berbagai
penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh
bersumber dari penyimpangan salah apakah
penyimpangan juz’i (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang
kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa Islamlah
satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan
manusia dunia dan akhirat. (QS Az Zukhruf:43).
Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah
senantiasa bersama orang-orang yang membela
agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)
Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses
pembinaan yang melingkupi berbagai aspek kehidupan
yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh),
Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan mental spiritual),
Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah).
Sehingga kader memiliki ketahanan dan mampu
melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa
dilaksanakan oleh orang besar dan amanah yang
berat hanya bisa diemban orang yang kuat. “Jalan
dakwah tidak dihampari permadani, tidak pula
ditaburi bunga melati dan minyak kasturi.
Sebaliknya, jalan dakwah dipenuhi duri dan ranjau2
yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku
penuh tikungan maut sementara jurang2 curam.
Mengingat jalan dakwah begitu berat maka
dibutuhkan kader2 dakwah yang tahan banting dan
pantang menyerah.” Yang menjadi perhatian IM
adalah Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul
arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq
(memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as
shahihah (mengembangkan kepahlawan yang benar).
Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang
berkesinambungan)
Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi
oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut
tarbiyah madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader
dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti
proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah
murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang
(mutadarijah) . Kader dakwah yang bermasalah dalam
proses tarbiyahnya hampir dapat dipastikan
berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah
pribadi, keluarga, social, maupun dakwah &
harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri
(tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif (jamaiyah).
Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat
mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena sehebat dan
sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai
dirinya sendiri secara obyektif dan syaithon
sangat suka dengan orang yang menyendiri.
Sifat-Sifat Kader Dakwah
Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan
yang indah bagi seorang mu’min. Ia mengibaratkan
mu’min yang matang proses tarbiyahnya seperti biji
kurma yang ditanam di halaman sebuah rumah dengan
pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu
kemudian merekah & menghasilkan tunas yang tumbuh
subur disirami hujan serta diterangi sinar
matahari. Maka jadilah ia sebuah pohon kurma yang
besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan
disaksikan oleh orang banyak. Mereka bernaung di
atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal
dari pohon itu sambil memunguti buah matang yang
berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga
dan terpelihara dari tangan2 jahat karena ada
pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan
tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan
pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang
berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin
dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya.
Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang
tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang
murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah yang
fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut
akan siksaNya dan bergetar hatinya bila dibacakan
kepadanya ayat2 Al Qur’an. (QS 8 : 2)
b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan
perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya
berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta
surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama
Allah adalah selalu merasakan kedekatan dengan
Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan
manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul, dan Qiyadah.
c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak
kekuasaan jahiliyah)
Diantara salah satu tanda akan tibanya hari
kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat
jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah :
“sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan
dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar
dan orang yang benar dianggap bohong. Orang yang
khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur
dianggap khianat dan orang2 yang tidak tahu apa2
berbicara urusan public” (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas
yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan
jahiliyah.
d. Selalu Memilih Hidup Serius
Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan
generasi unggul dari kalangan tabi’in, serta
generasi penerus seperti Umar bin Abdul Aziz,
Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, du’at
yang telah menyerahkan seluruh kemampuan diri
untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat Islam.
Begitu juga seharusnya kader dakwah.
e. Tha’atul jama’ah wal qiyadah (mentaati
jama’ah dan pemimpin)
Khalifah Umar bin Khotob berkata “Tidak ada
Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa
imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah
(kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).
Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:
a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah
dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Sur’atul Istijabah (segera menyambut dan
melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah
dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah
dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam keadaan
sangat darurat.
e. Ats tsabat ‘alat thoriqi dakwah (konsisten
dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu
konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar kata2 yang
diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab
serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas
jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2
pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali
kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan
bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang dengan
Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan
rahmatNya ialah istiqomah di jalan dakwah.
- Ma’rifatu thobi’atu thoriq (mengenal
karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan
yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan.
Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya
dengan kesabaran, nafas panjang, dan memahami
bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu
sebelum melihat kemenangan. Yang penting ia mati
di jalan Allah.
Adamu tanazu’ (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan
ta’adud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan
ta’adud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila
hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan pemikiran
(QS Al Anfal : 46)
July 14th, 2007 at 8:03 pm
kalau ada kalanya jalan yang diambil para pemimpin salah menurut hukum? kalau begitu gimana kiranya sikap seorang kader tarbiyah? sifat jamaahnya seperti apa ya?
July 23rd, 2007 at 9:45 pm
menurutmu ndiri gmana yanda?
July 24th, 2007 at 8:12 am
i dunno, baru baca disini.. so?
March 12th, 2008 at 11:06 pm
pmimpin ktika ambl jalan pastilah mlalui musyawarah dulu idealnya..krn kata pmimpin tidaklah “tunggal” tp akan sllu diiringi dgn “kpmimpinan”nya..tlebih “para pemimpin” like u wrote n ktka jlan atw kept diambl mlalui musy n salah, ttep ada 1 pahala di sisi Allah..